Deli Serdang, Jum’at, 31 Juli 2026,
1. PENGETAHUAN: Diagnosis Zaman “Cinta Dunia”
Dalam kajian psikologi dan sosiologi Islam, salah satu tanda akhir zaman adalah _hubbud dunya_ atau cinta dunia yang berlebihan. Rasulullah SAW telah mengingatkan 14 abad lalu:
“Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian. Tetapi aku khawatir jika dunia dibentangkan untuk kalian sebagaimana dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana mereka berlomba-lomba, maka dunia itu akan membinasakan kalian sebagaimana membinasakan mereka.” [HR. Bukhari & Muslim]
Secara ilmiah, fenomena ini disebut _hedonic treadmill_ atau “lingkaran hedonis”. Manusia mengejar harta, validasi, dan status. Saat mendapatkannya, rasa bahagia hanya sementara. Otak kemudian menuntut lebih lagi. Akibatnya: manusia sulit merasa cukup.
Data sosiologis juga menunjukkan, semakin tinggi tingkat konsumsi dan paparan media sosial, semakin tinggi pula tingkat kecemasan, depresi, dan perbandingan sosial. Pujian, _likes_, dan harta menjadi “tujuan utama” karena dianggap sebagai tolok ukur nilai diri.
2. PENJABARAN: Ketika Dunia Menjadi Tujuan Utama;
Tulisan di atas menggambarkan 3 gejala utama zaman ini:
1. Harta terus dikejar: Ekonomi menjadi satu-satunya orientasi hidup. Bekerja bukan lagi untuk ibadah dan menafkahi, tetapi untuk gaya hidup dan pengakuan.
2. Pujian selalu dicari: Validasi eksternal menggantikan nilai internal. Manusia mengukur dirinya dari apa kata orang, bukan dari apa kata Allah.
3. Nilai agama mulai diabaikan: Ketika hati penuh dengan cinta dunia, sholat terasa berat, sedekah terasa rugi, dan halal-haram menjadi relatif. Hati menjadi keras karena jauh dari dzikir.
Ibnu Qayyim menjelaskan: “Cinta dunia adalah pangkal dari segala kesalahan.” Karena dunia menjanjikan, tapi tidak pernah memuaskan.
3. PEMAHAMAN: Hakikat Kekayaan Sejati;
Islam meluruskan paradigma. Kekayaan tidak diukur dari nominal di rekening, tetapi dari kondisi hati.
Rasulullah SAW bersabda:
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta. Akan tetapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati.” [HR. Bukhari & Muslim]
Qana’ah; atau merasa cukup adalah benteng. Orang yang qana’ah memiliki 3 ciri:
1. Ridha dengan pembagian Allah – tidak iri dengan nikmat orang lain.
2. Bersyukur dengan yang ada – melihat ke bawah dalam urusan dunia.
3. Giat berusaha di jalan halal – dunia dikejar sebagai sarana, bukan tujuan.
Qana’ah melahirkan ketenangan. Dan ketenangan adalah bentuk kekayaan yang tidak bisa dibeli.
Dekat kepada Allah SWT adalah pusat dari semuanya. Karena hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. [QS. Ar-Ra’d: 28]
4. PERBUATAN: Menjaga Hati agar Tetap Sederhana;
Pengetahuan tanpa amal adalah sia-sia. Maka perlu 4 langkah praktis:
1. Muhasabah Harian;
Sebelum tidur tanyakan: “Hari ini aku mengejar apa? Ridha Allah atau pujian manusia?” Tulis 3 nikmat yang disyukuri setiap hari untuk melatih rasa cukup.
2. Puasa dari Dunia Digital
Batasi waktu di media sosial. Karena disitulah “pabrik” perbandingan dan haus pujian. Ganti 30 menit scroll dengan 30 menit membaca Al-Qur’an.
3. Sedekah dan Berbagi
Sedekah adalah terapi paling cepat untuk penyakit cinta harta. Dengan memberi, kita melatih hati bahwa rezeki bukan untuk ditumpuk, tapi untuk dialirkan.
4. Perkuat Hubungan dengan Allah
Jaga sholat tepat waktu, dzikir pagi petang, dan doa:
_“Allahumma inni as’aluka al-huda wat-tuqa wal ‘afafa wal ghina”_
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, terjaga, dan rasa cukup.”
PENUTUP;
Akan datang masa ketika manusia sulit merasa cukup. Itu bukan ramalan pesimis, tetapi peringatan agar kita bersiap.
Dunia boleh dikejar, tapi jangan sampai mengejar kita. Harta boleh dicari, tapi jangan sampai menjadi tuan atas hati kita.
Kekayaan sejati bukan pada banyaknya yang dimiliki, melainkan pada hati yang selalu merasa cukup dan tetap dekat kepada Allah SWT.
Karena pada akhirnya, yang kita bawa mati bukan harta, bukan pujian, tapi hati yang bersih dan amal yang ikhlas. (*).
Wallahu a’lam bish-shawab.
