Berita

Dijajah Tanpa Senjata Lewat Opini Publik”, Bossman Mardigu Soroti Perang Rebutan Kekayaan Bumi

Redaksi Diperbarui 16:21 3 menit membaca
Ukuran Teks:

Medan, http://gomsindosuaramerdeka.com (Minggu,11/10/2026) – |

Video berdurasi pendek dengan tulisan “INI DIA BUKTINYA!! KITA DI JAJAH TANPA SENJATA HANYA LEWAT OPINI PUBLIK!?” viral di Facebook. Video tersebut mengutip konten dari Youtube Channel Bossman Mardigu Wowiek dengan judul “DEMI MERAMPOK KEKAYAAN BUMI TIONGKOK!” yang diproduksi 12 September 2026.

Video itu telah ditonton puluhan ribu kali dan dibagikan 114 kali, memicu perdebatan di kolom komentar tentang perang informasi dan perebutan sumber daya alam.

Apa Isi Sebenarnya Video Bossman Tersebut?

Bukan membahas Tiongkok menjajah Indonesia, justru sebaliknya. Bossman Mardigu menjelaskan konsep Geoekonomi dan Perang Narasi.

Menurut Mardigu, pola penjajahan modern tidak lagi menggunakan senjata militer, melainkan menggunakan 3 senjata baru:

1. Senjata Opini: Membanjiri media sosial dengan narasi negatif agar rakyat membenci pemerintahnya sendiri dan membenci kebijakan industrialisasi.
2. Senjata Ekonomi: Menekan lewat embargo, larangan ekspor, dan gugatan di WTO.
3. Senjata Hukum Internasional: Menggunakan isu lingkungan dan HAM untuk menggagalkan hilirisasi.

Fakta di Lapangan yang Mendukung Narasi Ini:

1. Kasus Nikel Indonesia vs Uni Eropa:
Saat Indonesia melarang ekspor bijih nikel mentah tahun 2020 untuk membangun smelter di dalam negeri, Uni Eropa menggugat Indonesia ke WTO. Di saat yang sama, di media sosial muncul masif isu “Smelter China merusak lingkungan, Indonesia jadi jongos China”. Padahal nilai ekspor nikel Indonesia naik dari Rp45 triliun (2020) menjadi lebih dari Rp500 triliun setelah hilirisasi.

2. Kasus Tanah Jarang (Rare Earth) Tiongkok:
Tiongkok menguasai 70% pasokan tanah jarang dunia, bahan baku mobil listrik dan chip. Amerika dan Eropa melancarkan narasi “Tiongkok monopoli dan tidak ramah lingkungan” untuk merebut rantai pasok tersebut. Ini yang dimaksud judul “Demi Merampok Kekayaan Bumi Tiongkok”.

3. Pola Sama Terjadi di Aceh (Beutong):
Seperti berita sebelumnya tentang Emas Beutong, konflik tambang 2.859 hektare di Beutong Ateuh Banggalang juga menjadi medan perang opini. Di satu sisi ada petisi 87.705 orang dari 157 negara yang menolak tambang karena alasan lingkungan, di sisi lain ada argumen investasi untuk membuka keterisolasian desa. Kedua opini itu hidup di Facebook dan TikTok.

Analisis Redaksi GOMSINDO:

Apa yang disampaikan Bossman Mardigu adalah teori *Information Warfare* yang memang diajarkan di sekolah intelijen. Dalam doktrin militer modern, ini disebut *Perang Generasi Kelima (G5W)*, di mana yang diperangi bukan fisik, tapi persepsi publik.

Indonesia sebagai negara dengan kekayaan nikel, bauksit, emas, dan tembaga terbesar di dunia memang rawan menjadi sasaran perang opini tersebut.

Pakar Komunikasi Politik Universitas Sumatera Utara Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si., M.Si., yang dihubungi Gomsindo Minggu (11/10) mengatakan, “Masyarakat harus kritis. Tidak semua penolakan tambang itu murni gerakan lingkungan, dan tidak semua investasi itu murni untuk kesejahteraan. Kuncinya adalah transparansi data dan fakta.” Pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Kementerian ESDM terkait video viral tersebut. (*).

Tinggalkan komentar