Uncategorized

BUKAN MATI YANG MENAKUTKAN: REFLEKSI EKSISTENSIAL PENUAAN, KESEPIAN DAN SPIRITUALITAS LANSIA DALAM PERSPEKTIF ISLAM; (“NOT DEATH THAT IS FEARFUL: AN EXISTENTIAL REFLECTION ON AGING, LONELINESS AND SPIRITUALITY OF THE ELDERLY FROM AN ISLAMIC PERSPECTIVE”) 

Redaksi Diterbitkan 17:47 4 menit membaca
Ukuran Teks:

 

Oleh: Hasan Basri Siregar

Pengamat Pendidikan dan Sosial Keagamaan

 

 

Deli serdang, gomsindosuaramerdeka.com (Sabtu, 5 September 2026)

 

ABSTRAK;

Proses penuaan tidak hanya membawa kemunduran biologis, tetapi juga krisis eksistensial berupa rasa takut hidup seorang diri. Penelitian kualitatif reflektif ini bertujuan menganalisis fenomena “takut panjang umur” pada lansia melalui 4 aspek: pengetahuan, penjabaran, pemahaman, dan pelaksanaan. Hasil menunjukkan bahwa ketakutan terbesar lansia bukanlah kematian atau kemiskinan, melainkan _absennya kepedulian_ saat daya tubuh melemah. Dalam perspektif Islam, Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah SWT senantiasa bersama dan menolong hamba-Nya, terutama di masa lemah. Oleh karena itu, persiapan masa tua harus berbasis 4 pilar: kesehatan, keluarga, komunitas, dan spiritualitas.

Kata Kunci : Penuaan, Kesepian Lansia, Spiritualitas Islam, Dukungan Sosial, Q.S. At-Talaq: 3

 

1. PENDAHULUAN:

 

1.1 Pengetahuan

Penuaan adalah proses degeneratif universal yang ditandai penurunan fungsi fisik: nyeri sendi, gangguan sensori, insomnia, dan polifarmasi [WHO]. Di Indonesia, jumlah lansia 2024 mencapai 29,3 juta jiwa [BPS].[2020]

 

Secara ekonomi terjadi paradoks: _saat penghasilan menurun, biaya kesehatan meningkat_. Secara sosial, teori _Disengagement_ menjelaskan bahwa lansia cenderung ditarik dari peran sosial, berisiko mengalami isolasi.

 

1.2 Perspektif Islam: Allah Bersama Orang yang Lemah

Islam memandang lansia sebagai pihak yang harus dimuliakan. Allah SWT berfirman: وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

_”Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya”_ *Q.S. At-Talaq: 3*

 

*وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلًا*

_”Dan cukuplah Allah sebagai pelindung”_ *Q.S. An-Nisa: 81*

 

Ayat-ayat ini menjadi pondasi teologis bahwa manusia tidak pernah benar-benar sendiri. Bahkan di saat anak, pasangan, dan tenaga melemah, Allah senantiasa bersama dan menolong.

 

Rasulullah SAW bersabda: _”Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua”_ [HR. Tirmidzi].

 

2. PEMBAHASAN

 

2.1 Penjabaran: Empat Wajah Ketakutan Lansia

Berdasarkan narasi reflektif “Aku Mulai Kepikiran”, penjabaran ketakutan lansia meliputi:

1. Biologis : _Lutut nyeri, mata kabur, obat bertambah_ dan bersifat progresif.

2. Ekonomis : Datang bersamaan dengan penurunan pendapatan purna karya.

3. Relasional : Kecemasan “siapa yang menolong saat jatuh di kamar mandi”. Anak memiliki kesibukannya sendiri.

4. Eksistensial : Kesepian seperti kakek di warung yang menunggu sekadar ucapan “apa kabar”.

 

2.2 Pemahaman: Dari Fana ke Baqa,

Pemahaman yang muncul: yang paling menakutkan bukan tidak punya uang, melainkan _tidak punya orang yang peduli saat tidak berdaya_.

 

Islam menawarkan solusi tauhid. Kesepian duniawi diobati dengan _uns_ kepada Allah. Firman Allah:

 

*أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ*

_”Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang”_ *Q.S. Ar-Ra’d: 28*

 

Dengan demikian, lansia tidak menggantungkan ketenangan hanya pada manusia yang fana, tetapi pada Dzat Yang Maha Kekal.

 

2.3 Pelaksanaan: 4 Pilar Kesiapan Masa Tua Islami;

1. Pelaksanaan Kesehatan : _Rawat kesehatan_ dengan PHBS, olahraga, dan pengobatan. Ini adalah bentuk ikhtiar dan menjaga amanah tubuh.

2. Pelaksanaan Keluarga : _Jaga pasangan & dekati anak_. Islam mewajibkan birrul walidain. Anak adalah ladang pahala sekaligus jaring pengaman sosial.

3. Pelaksanaan Komunitas : _Pelihara persahabatan_. Aktif di majelis taklim, masjid, dan karang werda untuk mencegah isolasi.

4. Pelaksanaan Spiritualitas : Perkuat ibadah, dzikir, dan tawakal. Meyakini bahwa Allah senantiasa bersama dan menolong menjadi benteng mental menghadapi kelemahan fisik.

 

3. PENUTUP;

 

3.1 Simpulan

Penuaan adalah keniscayaan. Namun “panjang umur” menjadi menakutkan ketika dijalani tanpa dukungan. Dalam Islam, solusi utamanya adalah sinergi ikhtiar manusia dan tawakal kepada Allah. Keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang lemah menjadi sumber ketenangan utama lansia.

 

3.2 Rekomendasi

1. Individu : Menabung, menjaga sehat, dan membangun relasi sejak muda.

2. Keluarga: Menghidupkan budaya bertanya “apa kabar” kepada orang tua.

3. Negara & Masyarakat: Menguatkan program lansia berbasis masjid dan nilai keislaman

 

*DAFTAR PUSTAKA – APA 7th Edition*

Badan Pusat Statistik. (2024). _Statistik Penduduk Lanjut Usia 2024_. Jakarta: BPS.

Cacioppo, J. T., & Hawkley, L. C. (2009). Perceived social isolation and cognition. _Trends in Cognitive Sciences_, 13(10), 447–454. https://doi.org/10.1016/j.tics.2009.06.005

Kementerian Agama RI. (2019). _Al-Qur’an dan Terjemahannya_. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

Tirmidzi. (n.d.). _Sunan Tirmidzi, Hadits No. 1920_.

World Health Organization. (2020). _Decade of healthy ageing: 2020-2030_. Geneva: WHO.

 

CATATAN PENULIS:

Tulisan ini adalah refleksi dan dakwah sosial. Semoga menjadi pengingat bahwa memuliakan lansia adalah memuliakan masa depan kita sendiri.

 

Wallahu a’lam bishawab

 

 

Tinggalkan komentar