Uncategorized

Tubuh yang Fana, Jiwa yang Abadi: Refleksi Kata-Kata Mulia Imam Al-Ghazali ; Oleh Hasan Basri Siregar, Ketua JWI DS.   

Redaksi Diterbitkan 17:06 4 menit membaca
Ukuran Teks:

 

 

 

 

📌 Teks Asal

 

“Sungguh tragis, tubuh yang akan membusuk dimanja-manja, sedangkan jiwa yang hidup selamanya justru diabaikan.”

— Imam Al-Ghazali (1059–1111 M), Ulama Besar, Filsuf dan Teolog Muslim Persia

 

Deli Serdang, gomsindosuaramerdeka.com (Jum’at, 11/9/2026-|

 

📖 I. PENGETAHUAN: Landasan Al-Qur’an dan Hadis

 

A. Ayat Al-Qur’an

 

1. QS. Al-A’la [87]: 16–17

“Sedangkan kamu (orang-orang) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”

2. QS. Al-Hadid [57]: 20

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah di antara kalian, dan saling membanggakan dalam perbanyakan harta dan anak-anak…”

3. QS. Ali ‘Imran [3]: 185

“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian… dan kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”

4. QS. Ar-Rum [30]: 30

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu…”

 

B. Hadis Nabi ﷺ

 

1. HR. Bukhari & Muslim

“Sesungguhnya di dalam tubuh ada sepotong daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati.”

2. HR. Muslim no. 2564

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.”

3. HR. Bukhari no. 6454

“Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.”

 

 

 

📝 II. PENJABARAN: Makna dan Hakikat

 

A. Tubuh adalah Titipan Sementara

 

Tubuh manusia adalah wadah materi yang diciptakan Allah untuk menampung jiwa selama di dunia. Ia membutuhkan perawatan, makanan, istirahat, dan perlindungan — namun sifatnya fana dan akan membusuk. Imam Al-Ghazali menyamakan tubuh dengan “rumah sewa” atau “kendaraan” yang ditinggalkan saat perjalanan usai. Memanjakan tubuh secara berlebihan tanpa kendali sama dengan menyembah alat, bukan Sang Pemilik.

 

B. Jiwa adalah Hakikat Kekal

 

Jiwa (ruh/nafs) adalah inti kemanusiaan yang bersifat abadi. Ia tidak mati bersama tubuh; ia berlanjut ke alam akhirat dengan seluruh rekam jejak amal dan kebersihan batinnya. Allah menawarkan “amanat” kepada langit, bumi, dan gunung — namun semuanya menolak, manusialah yang memikulnya (QS. Al-Ahzab [33]: 72). Amanat ini berpusat pada jiwa.

 

C. Penyakit Zaman: Membius yang Fana, Melalaikan yang Kekal

 

Kata “tragis” dalam ungkapan Al-Ghazali merujuk pada ketimpangan prioritas:

 

– Tubuh — dirawat, dimanja, dihiasi, diobati dengan biaya mahal — lalu dikubur dan membusuk.

– Jiwa — dibiarkan lapar akan dzikir, ibadah, ilmu, dan kesucian — lalu diabaikan menuju alam kekal.

 

Ini bukan seruan menyakiti tubuh. Islam menegaskan: “Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu” (HR. Bukhari). Yang dikecam adalah ketimpangan ekstrem: melayani tubuh berlebihan, membiarkan jiwa terlantar.

 

 

 

💡 III. PEMAHAMAN: Tiga Dimensi Inti

 

1. Dimensi Teologis — Pencipta dan Tujuan

 

Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah (QS. Az-Zariyat [51]: 56). Tubuh adalah sarana, jiwa adalah pelaku utama. Jika sarana disembah dan pelaku diabaikan, maka tujuan penciptaan terbalik.

 

2. Dimensi Psikologis — Hati sebagai Pusat

 

Al-Ghazali mengutip sabda Nabi ﷺ: “Hati adalah raja, anggota tubuh adalah tentaranya.” Jika hati/jiwa bersih, seluruh anggota tubuh beramal saleh; jika rusak, seluruh tubuh tergelincir. Maka memperbaiki jiwa adalah memperbaiki seluruh kehidupan.

 

3. Dimensi Sosial — Kesalahpahaman tentang Kemajuan

 

Banyak orang mengukur keberhasilan dari penampilan, kekayaan, dan kekuatan fisik — padahal Al-Qur’an mengingatkan: jangan tertipu (QS. Ali ‘Imran [3]: 196–197). Ukuran sejati adalah kebersihan jiwa dan amal saleh .

 

 

 

🎯 IV. PELAKSANAAN: Langkah Konkret

 

A. Perbaikan Prioritas

 

– Penuhi kebutuhan tubuh secukupnya — makan, berpakaian, tempat tinggal seperlunya, tidak berlebihan.

– Prioritaskan nutrisi jiwa — perbanyak dzikir, tilawah Al-Qur’an, ilmu yang bermanfaat, muhasabah diri, dan ibadah sunnah.

 

B. Bersihkan Penyakit Hati

 

– Kenali penyakit batin: sombong, dengki, riya’, cinta dunia berlebihan.

– Obati dengan ilmu, amal, dan pergaulan yang baik. Al-Ghazali menegaskan: “Penyakit hati tidak bisa diobati kecuali dengan ilmu dan amal.”

 

C. Jadikan Tubuh Sarana Ibadah

 

– Tubuh bukan tuan, melainkan kendaraan menuju Allah. Gunakan untuk beramal, bukan untuk dimanfaatkan syahwat semata.

– Niatkan segala aktivitas lahiriah sebagai ibadah, sehingga kesejahteraan tubuh sekaligus menjadi amal jiwa.

 

D. Ingat Kembali Tujuan Akhir

 

– Rasulullah ﷺ bersabda: “Hiduplah di dunia seakan-akan engkau orang asing atau musafir.” (HR. Bukhari)

– Refleksikan: “Untuk apa kita diciptakan? Ke mana kita kembali?”

 

 

 

🤲 Penutup

 

Allah berfirman:

 

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr [89]: 27–30)

 

Semoga kita tidak termasuk yang “memanjakan yang akan membusuk, namun melalaikan yang akan kekal.” Marilah kita seimbangkan perawatan tubuh dengan penyucian jiwa, agar ketika tubuh kembali ke tanah, jiwa siap kembali kepada Penciptanya. (*).

 

 

 

 

Tinggalkan komentar