Berita

Kepemimpinan Realistis : Dari ” Masalah ” Menjadi ” Tidak Masalah ” Refleksi 1,5 Tahun Pemerintahan Asri Ludin – Lom Lom di Deli Serdang Oleh: Hasan Basri Siregar   Ketua JWI Deli Serdang

Redaksi Diterbitkan 12:14 3 menit membaca
Ukuran Teks:

Lubuk Pakam,Rabu (19/8)2026) gomsindosuaramerdeka.com– |

 

Dalam ilmu pemerintahan, ada dua kutub pendekatan kebijakan: idealis dan pragmatis. Namun di tengah tuntutan publik yang semakin kompleks, muncul pendekatan ketiga yang kini banyak dipakai kepala daerah: kepemimpinan realistis.

 

Istilah ini mengemuka saat Bupati Deli Serdang dr. H. Asri Ludin Tambunan dalam Dialog Refleksi 1,5 Tahun Kepemimpinan di Aula Cadika, Selasa 18 Agustus 2026, menyampaikan prinsipnya:

 

“Saya orangnya realistis. Niatan saya sederhana, menjadikan yang selama ini masalah menjadi tidak masalah.”

 

1. Realistis: Bukan Pesimis, Tapi Membumi

Dalam konteks tata kelola pemerintahan, “realistis” berarti kemampuan membaca persoalan sesuai data, sumber daya, dan skala prioritas. Bukan berarti tanpa visi. Justru visi “Deli Serdang Maju, Sehat, Sejahtera, Religius dan Berkelanjutan” diterjemahkan ke dalam program yang bisa dikerjakan hari ini.

 

Seperti analogi yang beliau sampaikan:

“Realistis itu artinya kita kerja sesuai porsi dan kemampuan. Masalah numpuk, kita urai satu-satu. Yang mendesak kita dahulukan. Karena yang kita urus ini bukan urusan pribadi, tapi hajat hidup orang banyak.”

 

Ini sejalan dengan teori Incrementalism dari Charles Lindblom: perubahan besar terjadi dari langkah-langkah kecil yang realistis dan berkelanjutan.

 

2. Bukti di Lapangan: Data Bicara

Selama 1,5 tahun, pendekatan realistis ini terlihat dari capaian sektoral:

1.  Kesehatan: UHC 98,70% dan PAS JEMPOL 80,75%. Artinya akses layanan dasar hampir merata.

2.  Ekonomi: Realisasi investasi Rp3,62 Triliun. Angka ini menunjukkan kepercayaan investor tumbuh.

3.  Pelayanan Publik: 95,2% pengaduan via LAPOR tuntas. PATEN KALI hadir di 22 kecamatan dan 205 desa/kelurahan.

 

Ini bukan proyek mercusuar. Ini penyelesaian “masalah dasar” warga: sakit, kerja, dan birokrasi.

 

3. Dialog sebagai Instrumen Evaluasi Kebijakan

Yang menarik, refleksi ini tidak dilakukan sendiri. Pemkab menggandeng Cipayung Plus: HMI, PMII, HIMMAH, KAMMI, GMNI, IMM, ditambah akademisi USU, OKP dan insan pers.

 

Dr. Agus Riadi, Wakil Dekan I FISIP USU* menegaskan 4 aspek pembangunan sudah bergerak: pelayanan publik, SDM & sosial, ekonomi rakyat, infrastruktur.

Prof. Agus Purwoko mendorong konektivitas sebagai kunci capital inflow.

Fredi Darmawan dari HMI mengusulkan Musrenbang Tematik Pemuda.

 

Artinya, prinsip realistis juga berarti: terbuka terhadap kritik dan masukan. Seperti slogan “Mengatasi Masalah Tanpa Masalah”, pemerintah hadir sebagai solusi, bukan sebagai bagian dari masalah baru.

 

Penutup: Dari Retorika ke Eksekusi

1,5 tahun bukan waktu sebentar, tapi juga belum cukup untuk mengubah seluruh sistem. Yang penting adalah arahnya benar.

 

Kepemimpinan realistis mengajarkan kita: jangan terjebak wacana besar tapi lupa kerja kecil. Selesaikan dulu yang “masalah”, baru bicara lompatan besar.

 

Jika konsistensi ini dijaga, ditambah dengan komitmen keterbukaan data dan pelibatan pemuda seperti yang dijanjikan Bupati, maka target “Deli Serdang Sejahtera” bukan lagi slogan. Ia menjadi peta jalan yang bisa diukur, diuji, dan dirasakan masyarakat.

 

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan pemerintah bukan seberapa indah pidatonya. Tapi seberapa banyak “masalah” yang berhasil ia jadikan “tidak masalah”.

(*)

 

Tinggalkan komentar