Deli Serdang, Jum’at, (7 Agustus 2026)gomsindosuaramerdeka. com -|
Kalimat sederhana ini adalah hukum alam yang tidak bisa ditawar. Dalam bahasa ilmiah, ini disebut entropi waktu: setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali. Dalam bahasa iman, ini adalah pengingat Allah agar kita tidak lalai.
Allah SWT berfirmanوَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian”
(QS. Al-‘Ashr: 1-2)
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan: “Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah kepada makhluk-Nya kecuali surat ini, maka sungguh telah cukup bagi mereka.”
Karena surat ini merangkum 3 hal: Iman, Amal Shalih, dan Saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Itulah satu-satunya “modal” agar tidak rugi oleh berjalannya waktu.
1. WAKTU ADALAH MODAL TERBESAR MANUSIA
Dalam ekonomi, modal yang habis bisa dicari lagi. Tapi waktu tidak. Setiap nafas adalah aset yang berkurang.
Rasulullah ﷺ mengingatkan:
*”نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ*
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang”
(HR. Bukhari No. 6412)
Secara ilmiah, kesehatan dan waktu luang adalah window of opportunity. Saat sehat dan luang, produktivitas manusia paling tinggi. Jika tidak diisi amal, maka ia rugi.
2. USIA AKAN DIMINTAI PERTANGGUNGJAWABAN
Berjalannya waktu = berkurangnya jatah hidup di dunia. Dan setiap jatah itu akan dihisab.
Rasulullah ﷺ bersabda:
*”لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ…”*
“Tidak akan bergeser dua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang 4 hal: tentang umurnya, untuk apa ia habiskan…”
(HR. Tirmidzi No. 2417, Hasan Shahih)
Ini dalil ilmiah-akhlak: hidup harus ada output. Allah tidak bertanya “berapa lama kamu hidup”, tapi “untuk apa kamu habiskan hidupmu”.
Allah juga berfirman:
*أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ*
“Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir?”
(QS. Fathir: 37)
Artinya: usia diberi agar kita berpikir, bertobat, dan beramal.
3. CARA MENGISI WAKTU AGAR TIDAK RUGI
Surat Al-‘Ashr memberi rumusnya:
1. Iman: Landasan. Tanpa iman, amal tidak bernilai akhirat.
2. Amal Shalih: Mengisi waktu dengan karya nyata. Ilmu, dakwah, membantu sesama, membangun keluarga, bekerja profesional.
3. Tawashau bil Haq wa Tawashau bis Shabr: Saling menasihati. Karena manusia mudah lupa dan lemah.
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan manajemen waktu:
*”اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ…”*
“Manfaatkan 5 perkara sebelum datang 5 perkara: Masa mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, luangmu sebelum sibukmu, hidupmu sebelum matimu”
(HR. Hakim No. 7846, Shahih)
Ini adalah prinsip time management Islami. Jangan tunda kebaikan.
PENUTUP: DARI KERUGIAN MENUJU KEUNTUNGAN
Waktu tidak pernah berhenti. Usia tidak pernah bertambah. Yang bertambah hanya catatan amal.
Maka setiap pagi kita harus bertanya:
“Apa yang sudah aku sumbangkan hari ini untuk agama, keluarga, dan umat?”
Bukan “berapa banyak waktu yang sudah aku habiskan untuk scroll dan mengeluh”.
Allah tidak menyuruh kita mengejar waktu. Allah menyuruh kita mengisi waktu dengan ketaatan.
Karena orang cerdas menurut Nabi ﷺ adalah:
*”الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ”*
“Orang cerdas adalah yang menghisab dirinya dan beramal untuk setelah kematian”
(HR. Tirmidzi No. 2459)
Mari kita jadikan berkurangnya usia sebagai alarm. Bukan untuk takut, tapi untuk semakin bersegera dalam kebaikan.
*وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ*
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu”_ *(QS. Ali Imran: 133)
Wallahu a’lam bish shawab.
