Uncategorized

“MENJADI MANUSIA YANG SULIT DILUPAKAN: DARI POPULARITAS KE MAKNA” Oleh : Hasan Basri Siregar

Redaksi Diterbitkan 11:29 3 menit membaca
Ukuran Teks:

 

Deli Serdang, gomsindosuaramerdeka.com ( Minggu, 30 Agustus 2026) -|

 

PENDAHULUAN:

Di era media sosial, banyak orang berlomba menjadi “disukai”. Jumlah like, followers, dan komentar menjadi tolok ukur eksistensi. Namun kutipan di atas menawarkan perspektif berbeda: bukan mencari popularitas, melainkan meninggalkan jejak yang bermakna. Tulisan ini mengkaji hakikat pernyataan tersebut melalui 4 dimensi: Pengetahuan, Penjabaran, Pemahaman, dan Perbuatan.

 

1. PENGETAHUAN:

Dasar Teori: Psikologi Sosial dan Filsafat Eksistensialisme

 

Secara psikologi, kebutuhan disukai = _need for affiliation_. Ini wajar karena manusia makhluk sosial. Namun menurut Viktor Frankl dalam _Logotherapy_, manusia paling bahagia bukan saat disukai banyak orang, tetapi saat hidupnya memiliki “makna” bagi orang lain.

 

“Disukai” bersifat situasional dan eksternal. Hari ini disukai, besok bisa dilupakan.

“Susah dilupakan” bersifat substantif dan internal. Ia lahir dari nilai, integritas, dan dampak yang kita tinggalkan.

 

Pengetahuan yang bisa kita ambil: Popularitas tanpa substansi = kosong. Kebermanfaatan tanpa pamrih = abadi.

 

2. PENJABARAN;

Mengurai Makna “Disukai” vs “Susah Dilupakan”

Jadi Orang yang Disukai* *Jadi Orang yang Susah Dilupakan*

Fokus: Pencitraan, menyenangkan semua orang Fokus: Konsistensi nilai dan prinsip

Cara: Mengikuti tren, takut berbeda Cara: Berani jujur, punya pendirian

Hasil: Banyak teman, tapi dangkal Hasil: Sedikit teman, tapi berdampak

Risiko: Capek, kehilangan jati diri Risiko: Dikritik, tapi dihargai

 

Menjadi “susah dilupakan” berarti meninggalkan jejak:

1.  Jejak Kebaikan – Menolong tanpa diumbar

2.  Jejak Integritas – Konsisten saat tidak dilihat orang

3.  Jejak Inspirasi – Membuat orang lain jadi versi terbaik dirinya

 

Sama seperti foto di atas: dua orang di air terjun. Mereka tidak berpose untuk disukai. Mereka menikmati momen, hadir, dan memberi ketenangan. Itu yang membuat kenangan “susah dilupakan”.

 

3. PEMAHAMAN

Refleksi Filosofis

 

Kalimat ini mengajarkan kita untuk beralih dari orientasi “eksternal validation” ke “internal value”.

 

“Disukai” menuntut kita menyesuaikan diri dengan ekspektasi orang. Lama-lama kita jadi versi yang bukan diri kita.

“Susah dilupakan” menuntut kita menjadi diri sendiri secara utuh. Saat kita tulus, jujur, dan bermanfaat, orang akan mengingat kita bukan karena wajah atau harta, tapi karena “rasa” yang kita tinggalkan.

 

Pemahaman kuncinya: Tujuan hidup bukan untuk jadi paling populer di ruangan. Tapi jadi alasan seseorang tersenyum saat mengingat kita.

 

4. PERBUATAN

Bagaimana Mengamalkannya?

 

Agar menjadi orang yang susah dilupakan, lakukan 3 hal ini:

 

1.  Hadir Sepenuhnya;

    Saat berbicara dengan orang, dengarkan. Saat membantu, fokus. Jangan setengah hati. Kehadiran yang utuh lebih diingat daripada seribu kata manis.

2.  Tebar Manfaat, Bukan Citra

    Bantu tanpa mengharap dipuji. Beri ilmu tanpa minta imbalan. Jaga amanah sekecil apapun. Orang lupa apa yang kita katakan, tapi tidak lupa bagaimana kita membuat mereka merasa.

3.  Kuatkan Prinsip

    Berani bilang “tidak” pada hal yang salah walau tidak populer. Berani minta maaf. Berani bertanggung jawab. Integritas inilah yang membuat nama kita tetap harum walau kita sudah tidak ada.

 

PENUTUP;

Dunia hari ini terlalu bising dengan orang yang ingin “disukai”. Padahal yang dibutuhkan zaman adalah orang yang “susah dilupakan” karena kebaikannya.

 

Seperti air terjun di gambar: ia tidak berisik minta diperhatikan. Ia hanya mengalir, memberi kehidupan. Dan karena itu, orang rela berjalan jauh hanya untuk mengingatnya.

 

“Jangan kejar untuk disukai semua orang. Cukup jadilah alasan mengapa beberapa orang bersyukur pernah mengenalmu.” (*)

 

Tinggalkan komentar