Berita

MEMBEDAH HAKIKAT SHOLAT: PERJUMPAAN SYARIAT, TARIKAT, HAKIKAT DAN MAKRIFAT DALAM SATU GERAKAN Oleh ; Hasan Basri Siregar (Batu Putih).

Redaksi Diterbitkan 17:16 4 menit membaca
Ukuran Teks:

Deli Serdang, gomsindosuaramerdeka.com -| ( Jum’at, 14 Oktober 2026).

Pendahuluan;
Di dalam sholat, terkumpul seluruh dimensi perjalanan seorang hamba menuju Allah SWT. Para ulama Arifin membagi perjalanan itu dalam 4 maqom: Syariat sebagai kendaraan, Tarikat sebagai jalan, Hakikat sebagai tujuan, dan Makrifat sebagai telah sampai. Keempatnya tidak terpisah, melainkan satu kesatuan yang utuh, disertai dengan penyempurna: Iman, Islam, Tauhid, dan Makrifat.

1. SYARIAT SEBAGAI KENDARAAN (AL-WASILAH)*

Syariat adalah hukum lahiriyah, aturan fiqh yang mengatur sah dan batalnya sholat.

Makna: Tanpa kendaraan, tidak akan pernah sampai tujuan. Syariat adalah jasadnya sholat.

Dasar Al-Qur’an:
Allah berfirman:
> ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا
_”Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu…”_ (QS. Al-Jatsiyah: 18)

Dalam sholat, syariat terwujud pada rukun qauli dan fi’li: niat, takbiratul ihram, berdiri, ruku, sujud, duduk, salam, thaharah, menghadap kiblat.

Dasar Hadis:
Rasulullah SAW bersabda:
> صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
_”Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat.”_ *(HR. Bukhari No. 631)

Ini adalah kendaraan. Siapa yang meninggalkan kendaraan, ia tidak akan berjalan.

2. TARIKAT SEBAGAI JALAN (ATH-THARIQ)

Tarikat adalah jalan atau metode untuk menyempurnakan kendaraan. Jika syariat adalah jasad, tarikat adalah ruh perjalanan, yaitu kehadiran hati, khusyuk, dan istiqomah.

Makna: Kendaraan tanpa jalan akan tersesat. Tarikat adalah pelaksanaan sholat secara terus-menerus dengan adab, dzikir dan muraqabah.

Dasar Al-Qur’an:
> قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ، الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
> _”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam sholatnya.”_ (QS. Al-Mu’minun: 1-2)

Khusyuk inilah tarikatnya sholat.

> وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ
_”Dan orang-orang yang memelihara sholatnya.”_ (QS. Al-Mu’minun: 9) – Menjaga waktu, adab dan kontinuitas, itulah Thariq.

Dasar Hadis:
Rasulullah ditanya tentang Ihsan, beliau menjawab:
> أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
> _”Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”_ (HR. Muslim No. 8)

Inilah jalan (tarikat) untuk sampai.

3. HAKIKAT SEBAGAI TUJUAN (AL-GHAYAH)

Hakikat adalah tujuan dan rahasia di balik gerakan sholat. Yaitu mengingat Allah dan tercegahnya dari perbuatan keji dan mungkar.

Makna: Apa tujuan kendaraan berjalan di atas jalan? Untuk sampai pada tujuan. Tujuan sholat adalah Dzikrullah.

Dasar Al-Qur’an:
> إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
> _”Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku.”_ (QS. Thaha: 14)

> إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
> _”Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.”_ (QS. Al-Ankabut: 45)

Jika sholatnya masih tidak mencegah fahsya dan mungkar, berarti baru sampai kendaraan dan jalan, belum sampai tujuan (hakikat).

4. MAKRIFAT SEBAGAI TELAH SAMPAI (AL-WUSHUL)

Makrifat adalah buahnya. Yaitu telah sampai, menyaksikan keagungan Allah, fana dari rasa diri dan baqa bersama Allah. Sholatnya orang yang makrifat adalah Mi’raj.

Dasar Al-Qur’an:
> وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ
> _”Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).”_ (QS. Al-Alaq: 19) – Puncak kedekatan adalah makrifat.

Dasar Hadis:
> الصَّلَاةُ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِ
> _”Sholat itu adalah mi’rajnya orang mukmin.”_ (Hadis masyhur dalam kitab-kitab Tasawuf, maknanya shahih)

PENYEMPURNA: IMAN, ISLAM, TAUHID, MAKRIFAT;

Seperti di ketahui, empat maqom ini disertai 4 pilar:

a. IMAN – Ditandai SUKA (Mahabbah)
Iman adalah pembenaran hati yang membuahkan cinta. Tanda orang beriman adalah suka dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
> لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
> _”Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya, dan manusia seluruhnya.”_ (HR. Bukhari & Muslim)

b. ISLAM – Ditandai SUCI (Thaharah)
Islam adalah kepasrahan lahiriyah yang ditandai dengan kesucian. Tidak sah sholat tanpa suci.
> إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
> _”Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”_ (QS. Al-Baqarah: 222)
Suci hadas, najis, dan suci hati dari syirik.

c. TAUHID – Ditandai KATANYA TIDAK DUA (Laa Syarika Lahu)*
Tauhid adalah mengesakan, tidak ada dua Tuhan. Puncak sholat adalah tauhid.
> قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
> _”Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa.”_ *(QS. Al-Ikhlas: 1)*
Dalam sholat, kita hanya berkata _Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in_ – Hanya kepada-Mu kami menyembah, ini tauhid uluhiyah.

d. MAKRIFAT – Ditandai BERBEDA MUHDAS DAN QADIM;
Inilah puncak ilmu: Mampu membedakan mana yang Muhdas (baharu/makhluk) dan mana yang Qadim (Azali/Allah). Yang baharu pasti rusak, yang Qadim kekal.
> كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ
_”Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-Nya (Allah).”_ *(QS. Al-Qash: 88)*
Orang makrifat dalam sholatnya sudah tidak melihat wujud dirinya (muhdas), yang ia lihat hanya Wujud Allah yang Qadim. Inilah makna _Laa Maujuda Illallah_.

Kesimpulan

Sholat yang sempurna adalah sholat yang lengkap 4 lapis:

1. Jasadnya Syariat: Gerakannya benar sesuai fiqh.
2. Jiwanya Tarikat: Hatinya khusyuk dan istiqomah di jalannya.
3. Ruh-nya Hakikat: Tujuannya tercapai, ingat Allah dan terjauh dari maksiat.
4. Sir-nya Makrifat: Telah sampai, merasakan kedekatan dan membedakan mana hamba yang fana (muhdas) dan mana Tuhan yang Baqa (Qadim).

Tanpa syariat batal, tanpa tarikat kosong, tanpa hakikat sia-sia, tanpa makrifat tidak sampai.

Wallahu A’lam Bishawab. (*)

Tinggalkan komentar