Deli Serdang, gomsindosuaramerdeka.com-|
Kalimat ini seharusnya menjadi pegangan kita dalam berbangsa. Tapi ironisnya, di tengah pemberantasan korupsi, kita justru terjebak dalam cara berpikir yang sempit.
Tidak heran jika pelaku korupsi makin berani, makin sistematis, dan tak kunjung habis. Karena yang kita gunakan untuk membedahnya hanya satu lensa: lensa hukum.
LENSA TUNGGAL MELAHIRKAN KORUPTOR BARU
Selama puluhan tahun kita percaya bahwa korupsi akan selesai jika hukum ditegakkan dan pelakunya dipenjara. Memang benar, hukum harus ditegakkan. Tapi lihat faktanya.
Penjara sudah penuh, OTT terus terjadi, kerugian negara triliunan. Namun berita korupsi baru muncul lagi minggu depan.
Mengapa? Karena pelaku korupsi juga “cerdas”. Mereka hanya memakai satu lensa: _lensa keuntungan_. Mereka menghitung dengan cermat. Resiko tertangkap kecil. Jika tertangkap bisa nego. Jika masuk penjara masih bisa nikmati hasil korupsi. Maka mereka berani.
Sementara kita, bangsa ini, sibuk memperbaiki undang-undang, menambah lembaga, menambah pasal. Tapi lupa membedah masalahnya dengan lensa lain.
MEMBEDAH KORUPSI DENGAN LIMA LENSA
Korupsi adalah penyakit sistemik. Ia tidak bisa disembuhkan hanya dengan obat “penjara”. Ia harus dibedah dengan banyak lensa sekaligus:
Pertama, Lensa Ekonomi.
Selama sistem pengadaan masih tertutup, selama proyek bernilai besar tanpa pengawasan publik, maka disitulah ladang uang. Gaji besar saja tidak cukup jika godaan sistemnya terlalu besar.
Kedua, Lensa Hukum.
Penegakan hukum harus tegas dan tanpa pandang bulu. Tapi hukum juga harus cepat. Jangan sampai prosesnya 5 tahun, bisa banding 3 kali, bisa remisi. Itu justru menjadi bahan perhitungan koruptor.
Ketiga, Lensa Psikologi.
Korupsi lahir dari 3 penyakit hati: tamak, merasa berhak, dan rasionalisasi. “Saya sudah berjasa”, “orang lain juga begitu”, “ini uang negara, bukan uang rakyat”. Selama mentalitas ini tidak dipotong, maka koruptor baru akan terus lahir dari kampus, dari birokrasi, dari partai.
Keempat, Lensa Sosiologi dan Budaya.
Selama masyarakat masih menganggap pejabat harus kaya, selama pesta pernikahan anak pejabat dirayakan mewah tanpa tanya dari mana uangnya, selama “asal bapak senang” masih jadi budaya kerja, maka korupsi akan dianggap wajar.
Kelima, Lensa Agama dan Spiritual.
Inilah lensa yang paling sering kita lupakan. Agama mengajarkan _muroqobah_: merasa selalu diawasi Allah. Sidratul Muntaha bukan hanya di langit ketujuh. Ia ada di hati setiap pejabat saat tidak ada BPK, tidak ada KPK, tidak ada CCTV. Jika iman mati, maka hukum seberat apapun akan diakali.
KESIMPULAN: CERDAS ADALAH BIJAKSANA
Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang mau melihat masalah dengan banyak lensa.
Memberantas korupsi butuh rumus utuh: `Penegakan Hukum + Sistem Transparan + Pendidikan Karakter + Budaya Malu + Kekuatan Iman`.
Jika hanya satu yang jalan, maka hasilnya nihil. Hukum jalan tapi budaya mendukung korupsi, maka sia-sia. Pendidikan jalan tapi sistemnya bolong, maka sia-sia.
Pelaku korupsi berani karena mereka fokus pada satu tujuan: untung.
Mari kita kalahkan mereka dengan cara yang lebih cerdas: melihat masalah secara utuh.
Selama kita masih nyaman dengan satu lensa, maka selama itu pula korupsi tidak akan pernah habis.
Dan rakyatlah yang akan terus menjadi korban.
Wallahu a’lam bishawab.
